Rabu, 27 Juni 2012

Hight Performance Liquid Chromatografy


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Tujuan Percobaan Pratikum        :
Penentuan kadar dari suatu  senyawa kimia dengan AAS

1.2.  Prinsip Kerja Praktikum     :
 Dengan mengukur intensitas radiasi yang di teruskan ( Transmittancy  ) atau yang  serap ( Absorbancy ) berdasarkan panjang gelombang tertentu maka konsentrasi unsur dalam larutan dapat di ketahui.

1.3.  Landasan Teori
         

Studi Kopolomerisasi GraftingAsam Akrilat (AA) Pada Polietilen (PE) Dengan Inisiator H2O2/Fe2+: Sebagai Penukar Kation

          Penukar kation telah dibuat melalui kopolimerisasi grafting dengan teknik “grafting-on” monomer asam akrilat (AA) pada film polietilen kerapatan rendah (LDPE) dengan inisiator reagen Fenton (H2O2/Fe2+) di bawah atmosfer nitrogen pada suhu 280C. Jumlah AA yang tergrafting pada film PE (persen grafting) dihitung menggunakan metode gravimetri. Persen grafting dipengaruhi oleh konsentrasi monomer AA, konsentrasi inisiator (H2O2), dan waktu kopolimerisasi yang digunakan. Dari hasil penelitian diperoleh kondisi optimum kopolimerisasi grafting PE-AA meliputi konsentrasi monomer AA (v/v), volume inisiator H2O2 30% dan waktu kopolimerisasi berturut-turut adalah 15% (v/v), 0,2 mL, dan 8 jam.
         
          Untuk mengevaluasi terbentuknya kopolimer PE-g-AA dilakukan karakterisasi menggunakan FTIR. Berdasarkan data spektroskopi FTIR, munculnya puncak-puncak serapan baru pada bilangan gelombang 1712,79 cm-1 (C=O) dan 2661,77 cm-1 (OH) mengindikasikan bahwa AA telah berhasil tergrafting pada film PE. Karakterisasi film PE-g-AA dilakukan dengan menguji daya serap air dan kapasitas pertukaran terhadap ion logam Cu2+. Berdasarkan hasil penelitian, semakin tinggi persen grafting maka semakin tinggi daya serap air dan kapasitas pertukaran ion logam Cu2+.
         
Pendahuluan
Polietilen (PE) merupakan turunan poliolefin yang banyak digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis peralatan rumah tangga dan kemasan seperti kemasan makanan dan minuman. Pemanfaatannya yang sangat luas didukung oleh keunggulan PE seperti sifat mekanik, daya tahan terhadap zat kimia yang baik, harganya yang murah, serta kemudahan dalam proses pembuatannya. Akan tetapi, PE memiliki kestabilan fisiko-kimia yang JURNAL KIMIA 5 (2), JULI 2011 : 143-155 144 terlalu kuat, hal ini disebabkan oleh struktur rantai PE yang berbentuk linier, kekristalan dan sifat hidrofobnya yang tinggi, serta terbatasnya situs aktif yang terdapat pada permukaan PE, sehingga membatasi penggunaan PE dalam beberapa bidang aplikasinya (Cowd, 1991).
Secara umum, beberapa sifat tertentu seperti komposisi kimia, hidrofilitas, dan daya adhesi dibutuhkan untuk pemanfaatan polimer tersebut dalam berbagai bidang aplikasinya. Untuk meningkatkan kesesuaian sifatnya (compatibility), salah satu cara yang telah dikembangkan adalah dengan memodifikasi permukaan PE agar memiliki daya adhesi yang tinggi sehingga dapat berinteraksi dengan bahan lain dan memudahkan aplikasinya dalam berbagai bidang sesuai dengan peruntukannya (Peacock, 2000).
Salah satu metode yang diketahui efektif untuk menghasilkan sifat-sifat yang diinginkan ke dalam PE adalah dengan teknik grafting (cangkok). Teknik grafting memiliki beberapa kelebihan, salah satunya adalah PE dapat difungsionalisasikan berdasarkan sifat yang dimiliki oleh monomer yang terikat secara kovalen tanpa mempengaruhi struktur dasar dan sifat kimia PE (Choi et al., 2003). Teknik grafting telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang aplikasi antara lain untuk mengubah sifat-sifat polimer induk dengan tujuan, seperti meningkatkan kekuatan adhesif polimer (Song et al., 2006), biodegradasi polimer (Hendri et al.,2008), memberikan sifat kepekaan polimer terhadap perubahan suhu dan pH (Bromberg et al., 2006), sifat hidrofilik sebagai superadsorben (Lanthong et al., 2006), memberikan sifat penghantar proton sebagai membran sel bahan bakar (Christina et al., 2008), dan sifat penukar ion (Zhang, 2009).
Membran penukar kation dapat dibuat dengan mencangkokkan monomer vinil yang mengandung gugus hidrofilik dan penukar kation, salah satunya seperti asam akrilat (AA) yang memiliki gugus karboksil (R-COOH) ke dalam polimer induk, seperti PE dengan teknik grafting. Ikatan rangkap yang dimiliki oleh AA mudah diinisiasi dengan adanya inisiator melalui reaksi radikal bebas, sehingga AA akan mudah mengalami homopolimerisasi menghasilkan poli(asam akrilat) dan mengalami grafting pada PE pada tahap terminasi (grafting-on) (Christina et al., 2008). Poli(AA) yang mengandung gugus hidrofilik (R-COOH) bertanggungjawab terhadap pertukaran kation dalam larutan melalui pembentukan kompleks kelat dengan ion logam berat (Zhang, 2009).
Modifikasi suatu polimer dengan teknik grafting melibatkan pembentukan situs aktif berupa radikal bebas atau ion terlebih dahulu pada monomer atau polimer induk. Pembentukan situs aktif pada proses grafting dapat dilakukan dengan dua cara, yakni metode kimia dan metode fisika. Pembentukan situs aktif dengan metode kimia biasanya digunakan dalam teknik “grafting-on”, dimana pembentukan situs aktif dimulai dari monomer yang berpolimerisasi menjadi homopolimer, pada metode ini radikal yang terbentuk pada monomer akibat abstraksi atom hidrogen atau inisiasi pada ikatan phi dari monomer oleh radikal inisiator seperti BPO (dibenzoyl peroxide), AIBN (azobisisobutyronitrile), atau bahan pengoksidasi seperti garam cerium dan reagen Fenton (H2O2/Fe2+). Pembentukan situs aktif dengan metode fisika biasanya digunakan dalam teknik “grafting-from”, dimana pembentukan situs aktif dimulai pada polimer induk. Pembentukan situs aktif dengan metode fisika dapat dilakukan dengan berbagai cara, meliputi iradiasi sinar, plasma, dan photografting (Dyer, 2006).
Maraknya berbagai penelitian tentang membran penukar kation, maka pada kesempatan ini akan dibuat membran penukar kation melalui teknik kopolimerisasi “grafting-on” polietilen kerapatan rendah (LDPE) dengan monomer asam akrilat (AA) menggunakan metode kimiawi melalui reaksi radikal bebas, dengan bantuan inisiator H2O2/Fe2+ (reagen Fenton).
Reagen Fenton memiliki beberapa kelebihan, pembentukan situs aktif pada permukaan PE yang diinisiasi oleh radikal hidroksi (OH) dilakukan tanpa dekomposisi termal (pemanasan) dan radiasi berenergi tinggi sehingga tidak akan menurunkan sifat mekanik dan struktur kimia membran yang dihasilkan. Sedangkan dari segi ekonomis, reagen Fenton harganya cukup murah dan mudah didapatkan (Huling et al., 2006).
Untuk mendapatkan kopolimer PE tergrafting AA (PE-g-AA) dengan persen grafting yang tinggi dan memiliki kapasitas pertukaran ion logam yang tinggi, maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui kondisi optimum dan pengaruh beberapa variabel terhadap persen grafting seperti konsentrasi monomer, konsentrasi inisiator, dan waktu reaksi kopolimerisasi. Pengaruh persen grafting terhadap daya serap air dan kapsaitas pertukaran kation membran juga akan diteliti.
Materi Dan Metode
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah plastik PE (LDPE) dengan warna transparan, asam akrilat (CH2=CHCOOH), hidrogen peroksida (H2O2), Ferro sulfat (FeSO4), larutan standar Cu2+ 400 ppm, gas nitrogen (N2), aseton teknis, dan akuades.
Peralatan
          Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan gelas, diantaranya: Erlenmeyer bertutup, gelas ukur, pipet ukur, pipet volume, labu ukur, gelas beaker, corong gelas, kertas saring, oven, neraca analitik, bola hisap, magnetic stirer, hot plate, seperangkat alat sokhlet, seperangkat alat bubling N2, kondensor, desikator, dan stopwatch. Peralatan instrumen yang digunakan adalah Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).

Cara Kerja
Penyiapan plastik polietilen (LDPE)
Plastik polietilen yang digunakan adalah polietilen transparan dengan jenis kerapatan rendah (LDPE) dengan ketebalan 50 m. Plastik tersebut dipotong-potong dengan ukuran 5,0 x 5,0 cm. Sebanyak 30 lembar plastik PE yang telah dipotong-potong kemudian diekstraksi dengan aseton menggunakan sokhlet selama 8 jam pada suhu 570C. Setelah itu, plastik dikeringkan dalam oven dengan suhu 500C.

Optimasi kopolimerisasi grafting PE-g-AA
          Penentuan kondisi optimum kopolimerisasi grafting AA pada PE, dilakukan variasi terhadap tiga variabel yang mempengaruhi persen grafting yakni variasi konsentrasi monomer AA (v/v), volume H2O2 30%, dan waktu reaksi.

Penentuan konsentrasi optimum monomer AA (v/v)
          Sebanyak 25 mL larutan monomer AA dengan variasi konsentrasi 7%, 10%, 15%, dan 20% ditambahkan ke dalam Erlenmeyer bertutup yang berisi plastik LDPE sebanyak 1 lembar, kemudian dialiri gas nitrogen dengan kemurnian tinggi selama 30 menit. Selanjutnya ditambahkan H2O2 30% dengan volume 0,2 mL dan FeSO4 sebanyak 0,0020 g dan diaduk selama 30 menit. Setelah 30 menit, pengadukan dihentikan, campuran didiamkan hingga waktu 3,5 jam pada suhu kamar (280C). Kopolimer PE-g-AA yang terbentuk, kemudian dicuci beberapa kali dengan akuades panas. Selajutnya kopolimer grafting tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu 500C sampai beratnya konstan. Persen grafting (%G) dihitung dengan metode gravimetri menggunakan rumus sebagai berikut (Yohan et al., 2006) :

%G = x100%
Dimana:
W adalah berat film kopolimer grafting PE-g-AA
dan W0 adalah berat film PE awal.

Penentuan volume optimum H2O2 (30%)
Penentuan volume optimum H2O2 (30%) dilakukan dengan memvariasikan volume H2O2 (30%) 0,05; 0,1; 0,2 dan 0,4 mL. Sedangkan konsentrasi monomer AA yang digunakan adalah konsentrasi optimum. Sementara itu, jumlah FeSO4, waktu reaksi, dan temperatur reaksi dibuat konstan.

Penentuan waktu reaksi optimum
Pengaruh waktu reaksi terhadap persen grafting dilakukan pada variasi waktu 2, 4, 8, 16, dan 24 jam pada suhu kamar. Konsentrasi monomer AA yang digunakan adalah konsentrasi optimum pada tahap dan volume H2O2 (30%) sebanyak 0,1 dan 0,2 mL. Sedangkan jumlah FeSO4 yang digunakan adalah konstan seperti tahap sebelumnya.

Karakterisasi kopolimer PE-g-AA
          Karakterisasi gugus fungsi menggunakan FT-IR dilakukan pada plastik PE awal dan kopolimer PE-g-AA. Penentuan tingkat hidrofilik kopolimer ditentukan dengan uji serapan air. Sedangkan penentuan kapasitas pertukaran ion logam Cu2+ menggunakan AAS.

Penentuan daya serap air
          Film yang telah digrafting (PE-g-AA) dengan berbagai persen grafting direndam dalam air selama 24 jam pada suhu kamar (280C). Kemudian film diangkat dan kelebihan air dihilangkan dengan kertas saring dan ditimbang. Serapan air dihitung berdasarkan rumus berikut (Yohan et al., 2006) :
Daya serap air (%) = x 100%

Dimana:
W2 adalah berat film PE-g-AA setelah direndam air (g)
dan W1 adalah berat film PE-g-AA sebelum direndam air (g).

Penentuan kapasitas pertukaran kation Cu2+
          Kopolimer PE-g-AA dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125 mL yang berisi 50 ml larutan Cu2+ 400 ppm dalam larutan buffer pH 4 kemudian diaduk selama 1 jam. Konsentrasi ion Cu2+ yang masih tersisa dalam larutan ditentukan dengan menggunakan AAS. Selisih konsentrasi antara ion Cu2+ yang tersisa dalam larutan dengan konsentrasi Cu2+ mula-mula merupakan jumlah ion Cu2+ yang diserap oleh film PE-g-AA. Kapasitas serapan terhadap ion Cu2+ dinyatakan dalam mek Cu2+/g PE-g-AA, seperti rumus berikut :
(c1-c2)x200xV
BM.CuxW1
 
 

Kapasitas serapan Cu2+ =
                                                                
          Dimana:
C1 adalah konsentrasi Cu2+ awal (ppm),
C2 adalah konsentrasi Cu2+ sisa (ppm),
V adalah volume larutan Cu2+ (L),
dan W1 adalah berat sampel PE-g-AA (mg).

Hasil Dan Pembahasan
Modifikasi permukaan polimer melalui kopolimerisasi grafting merupakan salah satu cara untuk menghasilkan sifat-sifat permukaan yang diinginkan seperti hidrofilitas yang tinggi, wettability sebagai penukar ion dan adsorben, sehingga dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang peruntukannya seperti bidang adhesif, membran, dan biomaterial. Salah satu penelitian yang sangat berkembang pada saat ini adalah sintesis kopolimer grafting sebagai penukar kation. Dalam aplikasinya, penukar kation dapat digunakan dalam pengolahan limbah perairan khususnya yang mengandung ion-ion logam berat.
Penukar kation dapat dihasilkan melalui kopolimerisasi grafting monomer-monomer vinil yang mengandung gugus fungsi sebagai penukar kation ke dalam polimer induk. Pada penelitian ini, AA digunakan sebagai monomer yang dicangkokkan pada polimer induk PE. Alasan pemilihan AA sebagai monomer disebabkan AA memiliki gugus penukar kation asam lemah (R-COOH) yang dapat digunakan pada proses pertukaran ion, selain itu AA yang mengandung ikatan rangkap akan mudah diinisiasi dengan adanya inisiator sehingga akan mudah mengalami polimerisasi membentuk poli(asam akrilat) yang tergrafting pada polimer induk PE.
Banyaknya monomer AA yang tergrafting pada film PE dinyatakan dengan persen grafting. Pemilihan PE sebagai polimer induk di karenakan sifat fisika-kimianya yang baik, sehingga diharapkan film PE-g-AA yang dihasilkan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama dalam suatu perairan. Selain itu, PE merupakan polimer semikristalin yang terdiri dari fase kristal dan fase amorf sehingga proses grafting tidak akan mempengaruhi sifat mekanik dan struktur kimia PE.
Berdasarkan proses pembentukan situs aktifnya, teknik kopolimerisasi grafting dalam penelitian ini merupakan proses “grafting-on” yang meliputi tiga tahap mekanisme radikal bebas yaitu inisiasi, propagasi dan terminasi.

Penyiapan plastik polietilen (LDPE)
          Plastik polietilen yang digunakan dalam penelitian ini adalah polietilen transparan dengan ketebalan 50 m, karena plastik PE dengan ketebalan tersebut memiliki kerapatan yang cukup rendah, sehingga molekul monomer akan mudah untuk menembus matrik PE dan mengalami grafting (Hendri et al., 2008). Selain itu, pemilihan warna transparan pada PE disebabkan oleh sedikitnya kandungan zat warna dalam PE transparan.
          Pada penelitian ini plastik PE yang digunakan dalam bentuk lembaran, mula-mula PE diekstrak menggunakan pelarut aseton untuk menghilangkan zat-zat aditif seperti plastizer, antioksidan, dan zat warna yang terdapat pada PE, karena zat aditif pada PE dapat mengganggu proses pencangkokkan.
Pelarut aseton merupakan pelarut semipolar yang dapat melarutkan zat aditif tersebut. Ekstraksi dilakukan selama 8 jam pada suhu 570C yang merupakan titik didih aseton. Setelah 8 jam, larutan aseton yang mula-mula berwarna bening berubah menjadi bening keputihan, ini menunjukan bahwa zat aditif yang terkandung dalam PE telah terekstrak oleh aseton. Plastik PE yang didapatkan masih dalam bentuk lembaran, tetapi terdapat beberapa perubahan pada permukaan plastik PE.
Permukaan PE yang mula-mula licin berubah menjadi tidak licin (keset) setelah diekstraksi, hal ini disebabkan oleh adanya lapisan pelindung pada permukaan PE yang telah terekstrak oleh aseton.

Pengaruh konsentrasi monomer AA
          Teknik grafting yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simultan tanpa oksigen. Mula-mula plastik PE yang telah dimurnikan, dimasukan ke dalam larutan monomer AA, kemudian dialiri gas nitrogen dengan tujuan untuk menghilangkan gas oksigen yang terdapat dalam larutan. Oksigen merupakan radical scavenger yang dapat menon-aktifkan radikal bebas (situs aktif) yang telah terbentuk, sehingga akan menghambat terjadinya kopolimerisasi grafting. Untuk itu, penambahan inisiator (Fe2+/H2O2) dilakukan setelah proses bubling menggunakan nitrogen selesai. Nitrogen merupakan senyawa stabil (inert) yang tidak mudah bereaksi dengan radikal (situs aktif) yang dihasilkan.
Beberapa saat setelah penambahan inisiator, larutan yang semula encer (viskositas rendah) lama kelamaan mengental (viskositas tinggi), hal ini disebabkan adanya polimerisasi dari radikal-radikal monomer AA membentuk homopolimer poli(AA). Reaksi dilakukan pada suhu 280C (suhu kamar) selama 4 jam, karena pada suhu ini diharapkan tidak terjadi depolimerisasi dan perubahan struktur kimia pada PE, pemutusan homolitik H2O2 menghasilkan radikal OH biasanya dilakukan dengan dekomposisi termal pada suhu tinggi, tetapi pada penelitian ini pembentukan radikal OH dikatalisis menggunakan Fe2+, sehingga tidak memerlukan pemanasan pada suhu tinggi yang dapat menyebabkan depolimerisasi struktur PE.
          Setelah 4 jam, kopolimer PE-g-AA yang didapatkan kemudian dicuci dengan akuades panas untuk menghilangkan sisa poli(AA) yang tidak tergrafting pada PE, diketahui bahwa poli(AA) larut dalam pelarut polar seperti akuades panas. Kopolimer PE-g-AA yang didapatkan masih berbentuk lembaran seperti plastik PE mula-mula, tetapi plastik yang didapatkan telah mengalami swelling (pembengkakan) yang ditandai dengan bertambahnya ketebalan dan bobot plastik PE-g-AA serta warna plastik yang berubah dari bening menjadi keputihan.
          Salah satu aspek kinetika yang berperan dalam metode grafting dengan inisiasi radikal bebas adalah konsentrasi monomer. Konsentrasi monomer memberi pengaruh terhadap persen grafting karena berkaitan dengan kecepatan perpanjangan rantai homopolime.
Pada Gambar 1. terlihat bahwa persen grafting meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi monomer. Pada konsentrasi monomer 7-10%, persen grafting terus meningkat, tetapi peningkatannya tidak terlalu signifikan karena dengan konsentrasi monomer yang kecil intensitas tumbukan antar molekul monomer AA juga kecil, sehingga laju propagasi rantai homopolimer poli(AA) radikal menjadi lambat, akibatnya rantai homopolimer poli(AA) yang tergrafting pada PE menjadi pendek. Sedangkan pada konsentrasi monomer 15%, merupakan konsentrasi optimum dengan persen grafting tertinggi yaitu sebesar 99,85%. Pada konsentrasi larutan monomer yang tinggi, kecepatan perpanjangan rantai homopolimer akan meningkat, hal ini disebabkan oleh tumbukan antar molekul monomer AA yang meningkat pula, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada konsentrasi 15% laju propagasi rantai homopolimer poli(AA) radikal sangat cepat, akibatnya homopolimer poli(AA) radikal yang tergrafting pada sisi aktif polimer induk PE menjadi panjang.
















Gambar 1. Pengaruh Konsentrasi
Pada konsentrasi monomer AA yang terlalu tinggi yaitu pada konsentrasi 20%, terjadi penurunan persen grafting. Hal ini disebabkan pada konsentrasi monomer yang terlalu tinggi mengakibatkan pembentukan rantai homopolimer poli(AA) radikal yang terlalu panjang, akibatnya homopolimer poli(AA) radikal akan susah bergabung dengan sisi aktif pada polimer induk PE karena pergerakan homopolimer radikal yang sangat lambat, sehingga hanya sebagian kecil poli(AA) yang tergrafting pada PE.

Pengaruh konsentrasi inisiator (H2O2)
          Aspek lain yang berpengaruh terhadap kinetika reaksi adalah konsentrasi inisiator. Konsentrasi inisiator memiliki peran penting dalam pembentukan situs aktif pada polimer induk PE maupun monomer AA. Konsentrasi inisiator juga berpengaruh terhadap panjang rantai homopolimer poli(AA) yang terbentuk.
Berdasarkan Gambar 2, terlihat bahwa peningkatan konsentrasi H2O2 akan meningkatkan persen grafting. Hal ini disebabkan, peningkatan konsentrasi H2O2 akan meningkatkan jumlah situs aktif berupa radikal OH, radikal OH ini akan menginisiasi terbentuknya situs aktif pada permukaan PE maupun pada monomer AA.
Banyaknya pembentukan situs aktif pada permukaan PE akan meningkatkan jumlah poli(AA) yang tergrafting pada PE, demikian juga situs aktif yang terdapat pada monomer AA akan meningkatkan pertumbuhan rantai homopolimer poli(AA) sehingga menyebabkan peningkatan persen grafting.












Gambar 2. Pengaruh Konsentrasi H2O2 terhadap persen grafling

Pada volume H2O2 0,05-0,1 mL peningkatan persen grafting tidak terlalu signifikan, hal ini disebabkan pada konsentrasi ini, radikal OH yang dihasilkan dalam jumlah minimum sehingga radikal OH lebih banyak menginisiasi pembentukan radikal pada monomer AA dibandingkan pembentukan situs aktif pada permukaan PE, sedikitnya jumlah radikal OH yang dihasilkan mengakibatkan rantai homopolimer yang dihasilkan menjadi panjang, karena sedikitnya situs aktif yang terdapat pada polimer induk PE mengakibatkan jumlah poli(AA) yang tergrafting pada PE juga sedikit. Sedangkan pada volume H2O2 0,2 mL terjadi peningkatan persen grafting secara signifikan, hal ini disebabkan oleh pembentukan radikal OH yang meningkat, mengakibatkan laju pembentukan situs aktif pada PE dan laju propagasi rantai homopolimer juga meningkat, sehingga memicu peningkatan pembentukan situs aktif pada PE dan peningkatan panjang rantai homopolimer poli(AA) yang terbentuk meskipun rantai yang dihasilkan tidak sepanjang rantai homopolimer pada konsentrasi H2O2 yang lebih rendah. Akibatnya jumlah poli(AA) dengan rantai panjang yang tergrafting pada PE meningkat. Untuk itu, pada konsentrasi ini dianggap sebagai konsentrasi optimum H2O2, karena persen grafting yang dihasilkan paling tinggi yaitu sebesar 99,85%.
Pada volume H2O2 0,4 mL terjadi penurunan persen grafting, hal ini disebabkan pada konsentrasi H2O2 yang terlalu tinggi menyebabkan pembentukan radikal OH yang tidak terkontrol. Pada kondisi ini, kecepatan pembentukan situs aktif lebih cepat terjadi pada monomer AA dibandingkan pada permukaan PE, sehingga radikal OH yang bersifat sangat reaktif akan menginisiasi pembentukan homopolimer poli(AA) radikal dengan rantai pendek dalam jumlah yang sangat banyak, akibatnya terminasi menjadi lebih mudah terjadi di bulk yaitu antar radikal poli(AA) rantai pendek dibandingkan dengan grafting pada situs aktif yang terdapat pada PE, sehingga hanya sebagian kecil homopolimer poli(AA) rantai pendek yang tergrafting pada polimer induk PE.

Pengaruh waktu reaksi
          Pengaruh waktu reaksi kopolimerisasi grafting asam akrilat terhadap film PE dilakukan pada waktu 2, 4, 8, 16, dan 24 jam. Grafik hubungan antara waktu reaksi dengan persen grafting dapat dilihat pada Gambar 3.










Gambar 3. Pengaruh waktu reaksi terhadap persen grafting
Berdasarkan Gambar 3, semakin lama waktu grafting, semakin besar pula persen grafting yang dihasilkan. Pada waktu reaksi 2-4 jam menunjukan peningkatan persen grafting yang tidak terlalu besar, hal ini disebabkan pada waktu reaksi yang cukup singkat, kurang memberikan keleluasaan terhadap radikal-radikal poli(AA) untuk memperpanjang rantai homopolimernya dan keleluasaan radikal OH dalam menginisiasi pembentukan situs aktif pada polimer induk PE, akibatnya rantai homopolimer poli(AA) yang terbentuk masih pendek dan jumlah situs aktif yang terdapat pada PE sedikit, sehingga jumlah poli(AA) yang tergrafting pada polimer induk sangat sedikit. Selain itu, pendeknya rantai poli(AA) yang tergrafting pada PE juga menyebabkan rendahnya persen grafting.
          Pada waktu reaksi 8 jam, terjadi peningkatan persen grafting yang signifikan, karena pada kondisi ini, waktu kontak yang diberikan cukup lama sehingga memberikan keleluasaan terhadap radikal poli(AA) untuk memperpanjang rantai homopolimernya (memicu pembentukan rantai panjang poli(AA)) serta keleluasaan terhadap pembentukan situs aktif pada PE. Untuk itu, jumlah poli(AA) rantai panjang yang tergrafting pada PE semakin banyak. Sedangkan pada waktu 8-24 jam, kecepatan propagasi rantai poli(AA) menurun, hal ini dapat dilihat bahwa pada waktu reaksi ini, kurva yang terbentuk semakin datar bila dibandingkan dengan waktu reaksi sebelumnya. Ini menandakan bahwa jumlah situs aktif pada poli(AA) maupun PE sudah sedikit, dan pada akhirnya proses kopolimerisasi grafting mengalami terminasi.

Karakterisasi kopolimer PE-g-AA dengan FTIR
Untuk mengetahui terjadinya grafting pada film PE, dilakukan pengujian sifat terhadap serapan gelombang inframerah menggunakan FTIR. Terbentuknya kopolimer grafting PE-AA dapat dievaluasi dengan membandingkan spektra FTIR PE sebelum proses kopolimerisasi (Gambar 4.4) dengan spektra FTIR PE tergrafting AA (Gambar 4.5). Hasil analisis gugus fungsi spektra FTIR ditampilkan pada Tabel 1.


 








Tabel 1. Hasil analisis gugus fungsi PE murni dan PE tergrafting AA
(PE-g-AA)
          Berdasarkan Tabel 1, spektra film PE sebelum pencangkokan terlihat memiliki sedikit serapan. Hal ini mencerminkan struktur dasar polimer nonpolar yang sederhana dan linier. Pita serapan yang kuat pada film ini terlihat pada daerah 2924,09 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur gugus metil (-CH3) dan pada daerah 2854,65 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur gugus metilen (-CH2-), sedangkan pada bilangan gelombang 1465,90 cm-1 dan 725,23 cm-1 merupakan vibrasi tekuk gugus metilen (-CH2-). Selain itu, terlihat pula pita serapan vibrasi tekuk gugus metil pada bilangan gelombang 1373,32 cm-1. Adanya puncak serapan vibrasi ulur metil disebabkan oleh struktur LDPE yang memiliki percabangan (Peacock, 2000).
Bila spektrum tersebut dibandingkan dengan film hasil grafting, maka terlihat adanya perbedaan yang mencolok pada spektrum serapannya. Munculnya pita-pita serapan yang baru (tambahan) dari gugus-gugus fungsi poli(asam akrilat) membuktikan bahwa AA telah mengalami grafting pada film PE. Pada film hasil kopolimerisasi grafting muncul vibrasi ulur O-H yang melebar dari bilangan gelombang sekitar 3300 hingga 2661,77 cm-1 yang merupakan ciri pita serapan yang khas dari gugus karboksilat, serta vibrasi ulur C=O yang khas di daerah 1712,79 cm-1 dan vibrasi tekuk C-O pada bilangan gelombang 1242,16 cm-1. Dari hasil ini disimpulkan bahwa asam akrilat telah tergrafting pada film PE.


Daya serap air kopolimer PE-g-AA
Kopolimerisasi grafting AA ke matrik film PE dapat mengubah permukaan film PE yang sebelumnya bersifat hidrofobik menjadi hidrofilik oleh adanya AA yang tergrafting pada film PE, sehingga memiliki kemampuan menyerap air. Daya serap air film PE tergrafting AA setelah direndam dalam akuades diperlihatkan pada Gambar 4, sebagai fungsi dari persen grafting.












Gambar 4. Pengaruh persen grafting terhadap daya serap air

          Berdasarkan Gambar 4 terlihat bahwa daya serap air film PE tergrafting AA meningkat dengan semakin meningkatnya jumlah AA yang tergrafting pada film PE. Hal ini berhubungan dengan struktur molekul dari gugus karboksilat yang terdapat pada film PE-g-AA. Gugus karboksil (R-COOH) yang berasal dari poli(asam akrilat) bertanggungjawab terhadap proses serapan air, hal ini disebabkan gugus karboksil memiliki kemampuan untuk mengikat molekul air dengan membentuk ikatan hidrogen antara gugus karboksil dengan molekul air. Semakin banyak gugus karboksil (R-COOH) yang terikat pada film, maka semakin banyak pula ikatan hidrogen yang terbentuk, sehingga air yang terserap semakin banyak.


Kapasitas pertukaran ion Cu2+
          Pengujian pertukaran ion Cu2+ dilakukan pada film PE-g-AA dengan berbagai persen grafting pada pH 4. Pada penelitian ini, mula-mula film PE-g-AA dimasukan ke dalam larutan Cu2+ dengan konsentrasi 400 ppm, beberapa saat setelah reaksi berlangsung, film PE-g-AA yang berwarna keputihan berubah warna menjadi biru, hal ini membuktikan bahwa film PE-g-AA telah menyerap ion Cu2+.










Gambar 5. Pengaruh persen grafting terhadap serapan Cu2+

Berdasarkan Gambar 5, kapasitas pertukaran ion Cu2+ meningkat dengan bertambahnya persen grafting. Serapan membran PE-g-AA terhadap ion Cu2+ yang sangat besar disebabkan oleh kemampuan dari gugus-gugus karboksil yang terdapat pada AA yang mampu membentuk kompleks kelat yang stabil dengan ion Cu2+, selain itu didukung oleh besarnya ukuran pori membran akibat pembengkakan oleh adanya molekul air yang terserap, sehingga memudahkan ion Cu2+ untuk masuk ke dalam pori-pori membran tersebut.
          Grafik antara serapan air dengan serapan ion Cu2+ memiliki korelasi yang positif. Semakin banyak gugus karboksil yang terikat pada film PE, maka jumlah molekul air yang terikat juga semakin banyak sehingga akan mempermudah membran untuk mentransfer proton H+ dari gugus karboksil (R-COOH) ke dalam larutan, sehingga ion Cu2+ dapat menggantikan kedudukan proton H+ dengan pembentukan kompleks kelat antara ligand-ligand (COO-) dengan atom pusat logam Cu.
Kesimpulan Dan Saran
1.    Berdasarkan karakterisasi menggunakan FTIR dan uji serapan air menunjukkan bahwa gugus karboksilat telah terikat pada film PE dan telah mengubah permukaan film PE yang semula bersifat hidrofobik menjadi hidrofilik tanpa merusak struktur dasar film PE. 
2.    Kondisi optimum pembuatan membran penukar kation melalui kopolimerisasi grafting AA pada film PE diperoleh pada konsentrasi monomer AA 15%, volume H2O2 30% sebanyak 0,2 mL, dan waktu pencangkokan selama 8 jam.
3.    Potensi aplikasi film PE tergrafting AA seperti daya serap air dan reaktifitas terhadap ion logam, sangat bergantung pada jumlah AA yang tergrafting, yakni dengan bertambahnya jumlah AA yang tergrafting pada film PE akan meningkatkan daya serap air dan kapasitas pertukaran ion tembaga (Cu2+).
Saran
1.    Perlu dilakukan karakterisasi lebih lanjut terhadap membran penukar kation  yang dihasilkan seperti sifat mekanik, sifat termal, dan kristalinitas.

1.3.2. Spektrophotometer
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan.Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Jenis-jenis spektrophotometer
Spektrofotometer dibagi menjadi dua jenis yaitu spektrofotometer single-beam dan spektrofotometer double-beam. Perbedaan kedua jenis spektrofotometer tersebut hanya pada pemberian cahaya, dimana pada single-beam, cahaya hanya melewati satu arah sehingga nilai yang diperoleh hanya nilai absorbansi dari larutan yang dimasukan. Berbeda dengan single-beam, pada spektrofotometer double-beam, nilai blanko dapat langsung diukur bersamaan dengan larutan yang diinginkan dalam satu kali proses yang sama.
Prinsipnya adalah dengan adanya chopper yang akan membagi sinar menjadi dua, dimana salah satu melewati blanko (disebut juga reference beam) dan yang lainnya melewati larutan (disebut juga sample beam). Dari kedua jenis spektrofotometer tersebut, spektrofotometer double-beam memiliki keunggulan lebih dibanding single-beam, karena nilai absorbansi larutannya telah mengalami pengurangan terhadap nilai absorbansi blanko. Selain itu, pada single-beam, ditemukan juga beberapa kelemahan seperti perubahan intensitas cahaya akibat fluktuasi voltase.
Atomic absorption spectroscopy (AAS) determines the presence of metals in liquid samples.Spektroskopi penyerapan atom (AAS) menentukan kehadiran logam dalam cairan sampel. Metals include Fe, Cu, Al, Pb, Ca, Zn, Cd and many more. It also measures the concentrations of metals in the samples. Meliputi logam Fe, Cu, Al, Pb, Ca, Zn, Cd, dan banyak lagi. Ini juga mengukur konsentrasi logam dalam sampel. Typical concentrations range in the low mg/L range. Khas konsentrasi berkisar pada angka rendah mg / L jangkauan. As concentration goes up, absorbance goes up.Seperti konsentrasi naik, absorbansi naik. The researcher can construct a calibration curve by running standards of various concentrations on the AAS and observing the absorbances. Peneliti dapat membuat kurva kalibrasi standar dengan menjalankan berbagai konsentrasi pada AAS dan mengamati absorbansinya. Atom-penyerapan (AA) menggunakan spektroskopi penyerapan cahaya untuk mengukur konsentrasi gas-fase atom. Since samples are usually liquids or solids, the analyte atoms or ions must be vaporized in a flame or graphite furnace. Karena biasanya sampel cairan atau makanan padat, maka atom atau ion analyte harus menguap dalam api atau grafit furnace. The atoms absorb ultraviolet or visible light and make transitions to higher electronic energy levels . Atom menyerap cahaya ultraviolet atau terlihat dan membuat transisi elektronik yang lebih tinggi tingkat energi. The analyte concentration is determined from the amount of absorption. Analyte konsentrasi yang ditentukan dari jumlah penyerapan. Applying the Beer-Lambert law directly in AA spectroscopy is difficult due to variations in the atomization efficiency from the sample matrix, and nonuniformity of concentration and path length of analyte atoms (in graphite furnace AA).
Menerapkan hukum Beer-Lambert langsung dalam spektroskopi AA sulit karena variasi dalam atomisasi efisiensi dari matriks sampel, dan nonuniformity konsentrasi dan panjang jalan analyte atom (dalam tungku grafit AA). Concentration measurements are usually determined from a working curve after calibrating the instrument with standards of known concentration. Konsentrasi pengukuran biasanya ditentukan dari kurva kerja setelah kalibrasi instrumen dengan standar yang diketahui konsentrasi. In atomic absorption (see schematic of an atomic-absorption experiment ), there are two methods of adding thermal energy to a sample.Penyerapan atom ada dua metode untuk menambahkan energi termal untuk sebuah sampel. A graphite furnace AAS uses a graphite tube with a strong electric current to heat the sample. Sebuah AAS tungku grafit menggunakan tabung grafit dengan arus listrik yang kuat untuk memanaskan sampel.
In flame AAS (see photo above), we aspirate a sample into a flame using a nebulizer . Dalam api AAS, kita aspirasi sampel ke dalam api menggunakan nebuliser. The flame is lined up in a beam of light of the appropriate wavelength. Api adalah berbaris di seberkas cahaya dari panjang gelombang yang sesuai. The flame (thermal energy) causes the atom to undergo a transition from the ground state to the first excited state. Nyala api (energi panas) menyebabkan atom untuk mengalami transisi dari tanah negara untuk negara bersemangat pertama. When the atoms make their transition, they absorb some of the light from the beam. The more concentrated the solution, the more light energy is absorbed! Ketika atom membuat transisi, mereka menyerap beberapa cahaya dari sinar. Semakin pekat larutan, semakin banyak energi cahaya yang diserap.
1.3.3. Spektrophotometer Serapan Atom
Atomic absorption spectroscopy (AAS) determines the presence of metals in liquid samples.Spektroskopi penyerapan atom (AAS) menentukan kehadiran logam dalam cairan sampel. Metals include Fe, Cu, Al, Pb, Ca, Zn, Cd and many more. It also measures the concentrations of metals in the samples. Meliputi logam Fe, Cu, Al, Pb, Ca, Zn, Cd, dan banyak lagi. Ini juga mengukur konsentrasi logam dalam sampel. Typical concentrations range in the low mg/L range. Khas konsentrasi berkisar pada angka rendah mg / L jangkauan. As concentration goes up, absorbance goes up.Seperti konsentrasi naik, absorbansi naik. The researcher can construct a calibration curve by running standards of various concentrations on the AAS and observing the absorbances. Peneliti dapat membuat kurva kalibrasi standar dengan menjalankan berbagai konsentrasi pada AAS dan mengamati absorbansinya.
Atom-penyerapan (AA) menggunakan spektroskopi penyerapan cahaya untuk mengukur konsentrasi gas-fase atom. Since samples are usually liquids or solids, the analyte atoms or ions must be vaporized in a flame or graphite furnace. Karena biasanya sampel cairan atau makanan padat, maka atom atau ion analyte harus menguap dalam api atau grafit furnace. The atoms absorb ultraviolet or visible light and make transitions to higher electronic energy levels . Atom menyerap cahaya ultraviolet atau terlihat dan membuat transisi elektronik yang lebih tinggi tingkat energi.
The analyte concentration is determined from the amount of absorption. Analyte konsentrasi yang ditentukan dari jumlah penyerapan. Applying the Beer-Lambert law directly in AA spectroscopy is difficult due to variations in the atomization efficiency from the sample matrix, and nonuniformity of concentration and path length of analyte atoms (in graphite furnace AA). Menerapkan hukum Beer-Lambert langsung dalam spektroskopi AA sulit karena variasi dalam atomisasi efisiensi dari matriks sampel, dan nonuniformity konsentrasi dan panjang jalan analyte atom (dalam tungku grafit AA). Concentration measurements are usually determined from a working curve after calibrating the instrument with standards of known concentration. Konsentrasi pengukuran biasanya ditentukan dari kurva kerja setelah kalibrasi instrumen dengan standar yang diketahui konsentrasi. In atomic absorption (see schematic of an atomic-absorption experiment ), there are two methods of adding thermal energy to a sample.Penyerapan atom ada dua metode untuk menambahkan energi termal untuk sebuah sampel. A graphite furnace AAS uses a graphite tube with a strong electric current to heat the sample. Sebuah AAS tungku grafit menggunakan tabung grafit dengan arus listrik yang kuat untuk memanaskan sampel. In flame AAS (see photo above), we aspirate a sample into a flame using a nebulizer . Dalam api AAS, kita aspirasi sampel ke dalam api menggunakan nebuliser.
The flame is lined up in a beam of light of the appropriate wavelength. Api adalah berbaris di seberkas cahaya dari panjang gelombang yang sesuai. The flame (thermal energy) causes the atom to undergo a transition from the ground state to the first excited state. Nyala api (energi panas) menyebabkan atom untuk mengalami transisi dari tanah negara untuk negara bersemangat pertama. When the atoms make their transition, they absorb some of the light from the beam. The more concentrated the solution, the more light energy is absorbed! Ketika atom membuat transisi, mereka menyerap beberapa cahaya dari sinar. Semakin pekat larutan, semakin banyak energi cahaya yang diserap.
To obtain the best results in AA, the instrumental and chemical parameters of the system must be geared toward the production of neutral ground state atoms of the element of interest.Untuk mendapatkan hasil terbaik di AA, instrumental dan parameter kimia dari sistem harus ditujukan ke arah produksi negara netral atom dari unsur bunga. A common method is to introduce a liquid sample into a flame. Metode umum adalah untuk memperkenalkan sebuah sampel cairan ke dalam api. Upon introduction, the sample solution is dispersed into a fine spray, the spray is then desolvated into salt particles in the flame and the particles are subsequently vaporized into neutral atoms, ionic species and molecular species. All of these conversion processes occur in geometrically definable regions in the flame. Setelah pendahuluan, larutan sampel tersebar ke semprot yang baik, yang spray kemudian partikel-partikel garam desolvated ke dalam api dan partikel-partikel yang kemudian menguap menjadi atom netral, ion molekuler spesies dan spesies. Semua proses konversi ini terjadi di daerah didefinisikan secara geometris dalam api. It is therefore important to set the instrument parameters such that the light from the source (typically a hollow-cathode lamp ) is directed through the region of the flame that contains the maximum number of neutral atoms. Karena itu penting untuk mengatur parameter instrumen sedemikian rupa sehingga cahaya dari sumber (biasanya sebuah lampu katoda cekung) adalah diarahkan melalui daerah api yang berisi jumlah maksimum atom netral. The light produced by the hollow-cathode lamp is emitted from excited atoms of the same element which is to be determined. Cahaya yang dihasilkan oleh lampu katoda cekung dipancarkan dari atom gembira unsur yang sama yang akan ditentukan. Therefore the radiant energy corresponds directly to the wavelength which is absorbable by the atomized sample. Oleh karena itu, energi radiasi berhubungan langsung dengan panjang gelombang yang diserap oleh sampel atomized. This method provides both sensitivity and selectivity since other elements in the sample will not generally absorb the chosen wavelength and thus, will not interfere with the measurement.
Metode ini menyediakan baik sensitivitas dan selektivitas karena unsur-unsur lain dalam sampel umumnya tidak akan menyerap panjang gelombang yang dipilih dan dengan demikian, tidak akan mengganggu pengukuran. To reduce background interference, the wavelength of interest is isolated by a monochromator placed between the sample and the detector. Untuk mengurangi gangguan latar belakang, panjang gelombang kepentingan terisolasi oleh monochromator ditempatkan di antara sampel dan detektor.
 Cara kerja Spektroskopi Serapan Atom ini adalah berdasarkan atas penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengapsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya. Jika  radiasi    elektromagnetik    dikenakan kepada  suatu  atom, maka akan  terjadi  eksitasi  elektron  dari  tingkat dasar  ke tingkat  tereksitasi.  Maka setiap    panjang   gelombang   memiliki   energi   yang   spesifik   untuk    dapat tereksitasi    ke    tingkat    yang  lebih   tingggi.    Besarnya   energi     dari   tiap  panjang gelombang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

                                      E = h
Dimana :
E = Energi (Joule)
h = Tetapan Planck ( 6,63 . 10 -34 J.s)
C = Kecepatan Cahaya ( 3. 10 8 m/s), dan
    = Panjang gelombang (nm)
          Larutan sample diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur di dalam   sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom unsur-unsur  yang dianalisis.Beberapa diantara atom akan tereksitasi secara termal oleh nyala,  tetapi kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar   (ground state).Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat oleh unsur-unsur yang bersangkutan. Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan panjang gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala.Absorpsi ini    mengikuti hokum Lambert-Beer, yaitu absorbansi berbanding lurus dengan    panjang nyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala.Kedua   variable ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat konstan      sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam larutan sampel.Teknik-teknik analisisnya yaitu kurva kalibrasi,standar tunggal dan kurva adisi standar. Aspek kuantitatif dari metode spektrofotometri   diterangkan   oleh  hukum Lambert-Beer,  yaitu:

                                                 A = ε . b . c
atau
                                                A = a . b . c

Dimana :
A = Absorbansi
ε = Absorptivitas molar (mol/L)
a = Absorptivitas (gr/L)
b = Tebal nyala (nm)
c = Konsentrasi (ppm)
          Untuk jenis zat dan panjang gelombang tertentu, sedangkan tebal media (sel) dalam prakteknya tetap. Dengan demikian absorbansi suatu spesies akan merupakan fungsi linier dari konsentrasi, sehingga dengan mengukur absorbansi suatu spesies konsentrasinya dapat ditentukan dengan membandingkannya dengan konsentrasi larutan standar.

Optimasi peralatan Spektrofotometri Serapan Atom
          Pada peralatan optimasi Spektrofotometri Serapan Atom agar memberikan wacana dan sejauh mana sensitivitas dan batas deteksi alat terhadap sampel yang akan dianalisis, optimasi pada peralatan SSA meliputi: Pemilihan persen (%) pada transmisi, Lebar celah (slith width), Kedudukan lampu terhadap focus slit, Kemampuan arus lampu Hallow Cathode, Kedudukan panjang gelombang (λ), Set monokromator untuk memberikan sinyal maksimum, Pemilihan nyala udara tekanan asetilen, Kedudukan burner agar memberikan absorbansi maksimum, Kedudukan atas kecepatan udara tekan, Kedudukan atas kecepatan asetilen.

Keuntungan metode AAS
                  Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan spektrofotometer biasa yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa mengukur unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung terhadap contoh, output dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis unsur, batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %). Sedangkan kelemahannya yaitu pengaruh kimia dimana AAS tidak mampu menguraikan zat menjadi atom misalnya pengaruh fosfat terhadap Ca, pengaruh ionisasi yaitu bila atom tereksitasi (tidak hanya disosiasi) sehingga menimbulkan emisi pada panjang gelombang yang sama, serta pengaruh matriks misalnya pelarut.

 Analisa Kwantitatif dengan AAS
Untuk keperluan analisi kwantitatif AAS maka sampel harus dalam bentuk larutan untuk menyiapkan larutan sampel harus dilakukan sedemikian rupa yang pelaksanaanya tergantung dari macam dan jenis sampel. Yang penting untuk diingat adalah bahwa larutan yang dianalisis haruslah sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel:
1.    Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai
2.    Sampel dilarutkan dalam suatu asam
3.    Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dileburkan dahulu dengan basa dan kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai
Metode pelarutan apa pun yang akan dipilih untuk dilakukan analisi dengan AAS yang terpenting adalah bahwa larutan yang dihasilkan harus
1.    Jernih
2.    Stabil
3.    dan tidak mengangu zat-zat yang dianalisis
The technique makes use of absorption spectrometry to assess the concentration of an analyte in a sample.Teknik memanfaatkan spektrofotometri penyerapan untuk menilai konsentrasi suatu analit dalam sampel. It relies therefore heavily on Beer-Lambert law . Karena itu sangat bergantung pada hukum Beer-Lambert. In short, the electrons of the atoms in the atomizer can be promoted to higher orbitals for a short amount of time by absorbing a set quantity of energy (ie light of a given wavelength).Singkatnya, elektron dari atom di dalam alat penyemprot dapat dipromosikan ke orbital yang lebih tinggi untuk waktu singkat dengan menyerap jumlah seperangkat energi (cahaya yaitu panjang gelombang tertentu). This amount of energy (or wavelength) is specific to a particular electron transition in a particular element, and in general, each wavelength corresponds to only one element. Jumlah energi (atau panjang gelombang) adalah khusus untuk transisi elektron tertentu dalam unsur tertentu, dan secara umum, masing-masing panjang gelombang sesuai dengan hanya satu elemen. This gives the technique its elemental selectivity.
Teknik ini memberikan selektivitas yang mendasar. As the quantity of energy (the power) put into the flame is known, and the quantity remaining at the other side (at the detector) can be measured, it is possible, from Beer-Lambert law , to calculate how many of these transitions took place, and thus get a signal that is proportional to the concentration of the element being measured.Sebagai jumlah energi (daya) dimasukkan ke dalam api yang diketahui, dan kuantitas yang tersisa di sisi lain (di detektor) dapat diukur, ada kemungkinan, dari Hukum Beer-Lambert, untuk menghitung berapa banyak transisi ini berlangsung, dan dengan demikian mendapatkan sinyal yang sebanding dengan konsentrasi unsur yang diukur.
Gangguan dalam Spektrofotometri  Serapan Atom
Berbagai faktor dapat mempengaruhi pancaran nyala suatu unsur tertentu dan menyebabkan gangguan pada penetapan konsentrasi unsur.
1. Gangguan akibat pembentukan senyawa refraktori.
              Gangguan ini dapat diakibatkan oleh reaksi antara analit dengan senyawa kimia, biasanya anion, yang ada dalam larutan sampel sehingga terbentuk senyawa yang tahan panas (refractory). Sebagai contoh fospat akan bereaksi dengan kalsium dalam nyala menghasilkan pirofospat (Ca2P2O7).
Hal ini menyebabkan absorpsi ataupun emisi atom kalsium dalam nyala menjadi berkurang. Gangguan ini dapat diatasi dengan menambahkan stronsium klorida atau lanthanum nitrat ke dalam larutan. Kedua logam ini mudah bereaksi dengan fospat dibanding dengan kalsium sehingga reaksi antara kalsium dengan fospat dapat dicegah atau diminimalkan. Gangguan ini dapat juga dihindari dengan menambahkan EDTA berlebih. EDTA akan membentuk kompleks kelat dengan kalsium, sehingga pembentukan senyawa refraktori dengan fospat dapat dihindarkan. Selanjutnya kompleks Ca-EDTA akan terdisosiasi dalam nyala menjadi atom netral Ca yang menyerap sinar.

2. Gangguan ionisasi
                Gangguan ionisasi ini biasa terjadi pada unsur-unsur alkali tanah dan beberapa unsur yang lain. Karena unsur-unsur tersebut mudah terionisasi dalam nyala. Dalam analisis dengan SSA yang diukur adalah emisi dan serapan atom yang tak terionisasi. Oleh sebab itu dengan adanya atom-atom yang terionisasi dalam  nyala akan mengakibatkan sinyal yang ditangkap detektor menjadi berkurang.            Namun demikian gangguan ini bukan gangguan yang sifatnya serius, karena hanya sensitivitas dan linearitasnya saja yang terganggu. Gangguan ini dapat diatasi dengan menambahkan unsur-unsur yang mudah terionisasi ke dalam sampel sehingga akan menahan proses ionisasi dari unsur yang dianalisis.



BAB II
PROSEDUR KERJA
2. 1. Alat dan bahan             
a. Alat yang digunakan:
          1. Sumber sinar
          2. Atomizer
          3. Detector
          4. Tabung Asetilena
b. Bahan yang digunakan:
          1. Larutan logam Fe 20 ppm
          2. Larutan logam Fe 40 ppm
          3. Larutan logam Fe 60  ppm

1.    2. Prosedur kerja
·       Sebelum menekan power swidth:
1.    Memutar tombol Display switch ke check.
2.    Menekan tombol Scan speed switch ke manual.
3.    Menekan tombol Expansi knop skala 1,00 (x1).
4.    Menekan tombol A.A Zero skala 10,00.
5.    Menekan tombol Mode ke FE.
6.    Menekan tombol Lamp current ke skala 0.
7.    Memutar tombol FE Zero ke arah jarum jam (habis).
·       Sebelum mengalirkan gas
1.    Memilih gas yang akan digunakan.
2.    Membuang air pada tangki air , bila di atas level yang ditentukan (memperhatikan volume tangki sedikit di atas garis strip).
3.    Memutar tombol Pressure Control (PC) berlawanan arah jam sampai %.
4.    Menekan tombol Flame Monitor dari ON ke OFF.
5.    Menekan tombol Level monitor untuk Udara-C2H2 ke atas.
6.    Mengatur Flow gas yang dipakai yaitu udara.
·       Menghidupkan lampu katoda
1.    Menekan tombol Power switch ke ON.
2.    Memasang lampu dan menyesuaikan ke tempatnya.
3.    Melonggarkan sekrupnya dan mengaturnya sehingga posisi lampu lurus ke poros optikalnya.
4.    Menyesuaikan lampu current menurut yang dikehendaki.
5.    Setelah mengatur panjang gelombang dan menepatkan slit width pada posisi lampu sehingga skala meteran maksimum.
6.    Setelah pemanasan 10 menit, lampu dapat digunakan untuk analisa.
·       Pengaturan slit width dan panjang gelombang
1.    Melakukan pengaturan seperti pada cara kerja sebelum penekanan power
swidth.
2.    Mengatur slit swidth menurut yang dikehendaki.
3.    Mengatur AA Zero antara 3 dan 5-4-3.
4.    Menepatkan dengan FE Zero control, sehingga skala meteran pembacaan di bawah 100 (=80) lampu Z monitor seperti padam.
5.    Memutar perlahan-lahan panjang gelombang sehingga diperoleh harga maksimum pada skala pembacaan.
·       Ignisi
1.    Memperhatikan kembali skala-skala pengaliran gas, menyesuaikan dengan
tabel.
2.    Memutar flow kontrol sesuai arah jarum jam (habis) dan akan terlihat knop
warna merah.
3.    Menekan ignisi sehingga terbentuk nyala.
4.    Mengatur nyala sehingga tingginya sesuai dengan memutar pengatur knop
udara dan C2H2.
·       Pengukuran
1.    Memutar mode switch dari FE ke AA.
2.    Sambil mengaspirasikan solvent (air) display ke check dan menepatkan dengan AA Zero sehingga skala meteran menunjukkan antara 0-100 (=75). Maka, zero monitor menjadi padam.
3.    Memutar display ke average 1, jika pada saat itu skala meteran di luar normal (-) maka menekan zero set.
4.    Sambil mengaspirasikan air, check sinar zero monitor jika tidak terang maka menekan zero set, secara terus-menerus mengaspirasi solvent sehingga zero set menjadi padam. Jika sinar zero monitor terang mengaturnya dengan AA Zero dengan mengaspirasi solvent (air) sehingga air menjadi padam dan menekan zero set.
5.    Mengaspirasi sampel dan menekan “average start”.
6.    Sesudah “average start” padam, menghentikan aspirasi dan menekan “zero set” membaca skala pembacaan absorbansi.
·       Pemadaman nyala
1.    Mengaspirasi air-10 untuk memebersihkan burner.
2.    Memutar OFF pressure monitor dan flame monitor.
3.    Menutup kran C2H2 dan udara (OFF).
4.    Memutar pressure control sesuai lawan arah jarum jam (3/4 habis).
5.    Menekan extinguish sampai skala meteran 0 berhenti nyala.
6.    Mengatur:
o   Expansi ke 1
o   Display check ke check 1
o   Mode switch ke FE 2
7.    Memutar lamp current ke 0 untuk memadamkan lampu katoda.
8.    Menekan power ke OFF.





   BAB III
GAMBAR RANGKAIAN

3. 1. Gambar peralatan

gfaa
 

























B A B  IV
DATA PENGAMATAN
No
Cons (ppm)
Abs
1
20
0.200
2
40
0.421
3
60
0.631
4
Sampel air kran
0.290




























B A B   V
PENGOLAHAN DATA


5. 1. Perhitungan regresi linear sederhana
          Σ X   =       120
          Σ Y   =       0.848
          Σ XY          =       39.08
          Σ X2  =       5600
          Σ Y2  =       0.2743
          X       =       40
          Y       =       0,2826

          b       =       n . Σ XY – Σ X . Σ Y
                                   Σ X2 – (Σ X)2
                   =       3 . (39.08) – (120) . (0.848)
                                        5600 – (120)2
                   =       117.24 – 101.76
                                  5600 - 14400
                   =          15.48
                              - 8800
                   =       - 0,0017

          a        =       Y – b X
                   =       0.2826 – (- 0.0017 . 40)
                   =       0.2826 – (- 0.068)
                   =       0.3506



         
5. 2. Perhitungan koefisien korelasi
                  
          R       =                 n . Σ XY - Σ X . Σ Y                   
                             √ [n . Σ X2 – (Σ X)2] . [n . Σ Y2 – (Σ Y)2]
                   =                 3 . (39.08) – (120) . (0.848)
                             √ [3. 5600 – 14400] . [3 . (0.2743) – 24,765]
                   =                 117.24 – 101.76  
                             √ [2400] . [-0.1038]
                   =       15.48
                             15.78
                   =       0,9809

No
Cons (ppm)
Abs
XY

X
Y



1
20
0.139
2.78
400
0.0193
2
40
0.312
12.48
1600
0.0973
3
60
0.397
23.82
3600
0.1576

Σ X = 120
Σ Y = 0,848
Σ XY = 39.08
ΣX²=5600
Σ Y²=0.2743








 




Grafik






BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6. 1. Kesimpulan

1. Konsentrasi dari larutan yang diuji pada percobaan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) memiliki hubungan berbanding lurus terhadap nilai absorbansi yang didapat yakni semakin tinggi konsentrasi dari larutan cuplikan maka nilai absorbansi akan semakin besar pula.
2. Proses penyerapan atom yang terjadi pada larutan cuplikan akan menen-
    tukan tingkat absorbansi yang akan dihasilkan setelah lampu current diarahkan atau ditembakkan menuju flame monitor yang telah diletakkan larutan cuplikan. 

6. 2. Saran
Agar langkah-langkah proses praktikum lebih dijelaskan secara lengkap dan seksama untuk membantu praktikan lebih memahami praktikum lebih maksimal dan dapat dilakukan dengan baik menggunakan alat yang bersangkutan.Dan praktikan lebih berhati – hati dalam mengoperasikan alat – alat yang ada.










                                                 DAFTAR PUSTAKA


Barus adil. 2012.DIKTAT KIMIA ANALISA INSTRUMENT. Untuk Kalangan Sendiri; Medan.
Gabriel , Cristiana , Ioana, Iulian, Raluca. 2009. IDENTIFIKASI UNSUR PENCEMARAN UDARA DI LUMUT  DIGUNAKAN SENAGAI BIOINDIKATOR, DENGAN METODE XRF Dan AAS; Torgoviste.
Astuti Sri, Amd. 2012. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANALISA INSTRUMENT.Untuk Kalangan Sendiri; medan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar